Wednesday, November 2, 2011

Cara Budidaya Tabulampot Rambutan


Tanaman buah tropis asli Indonesia ini mulai marak ditanam di halaman rumah. Tidak saja di tanah, tetapi juga di pot plastik atau drum. Jika ditanam di lahan, tingginya bisa mencapai 6,5-7,5 m. Tetapi, jika ditanam dalam pot, tanaman bisa dikerdilkan hingga tingginya hanya mencapai 2-3 m. Banyak sekali varietas unggulan dari buah yang berambut ini. Sebut saja rapiah dan Binjai. Kedua jenis ini banyak dipilih karena rasanya manis dan ngelotok.

Lingkungan tepat, performa prima
Lingkungan memang memegang peranan yang penting untuk menghasilkan performa rambutan prima. Sebaiknya, rambutan ditanam di daerah dengan ketinggian 30-500 m dpl. Pada ketinggian di bawah 30 m dpl, rambutan dapat tumbuh, tetapi tidak begitu baik hasilnya. Suhu lingkungan yang diinginkan 20-35ÂșC. Intensitas curah hujan berkisar antara 1.500-2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Kelembapan udara yang dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan sedang. Kondisi udara dengan kelembapan yang rendah serta miskin uap air cocok untuk pertumbuhan tanaman rambutan. Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak terbit hingga terbenam, intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan suhu lingkungan. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kempes).
Penanaman di pot

Untuk tabulampot, gunakan bibit rambutan sehat
Penanaman rambutan dalam pot seringkali mogok berbuah, bahkan tak berbuah sama sekali atau mati sebelum berbuah. Tanaman rambutan dalam pot sebetulnya bisa menghasilkan buah, asal kita tahu teknik cara budidaya yang tepat. Berikut adalah tahapan melakukan penanaman tanaman rambutan dalam pot.
Menyiapkan pot
Pot yang digunakan sebaiknya berupa drum berukuran agak besar, sebab ukuran bibitnya juga agak besar. Misalnya, bibit rambutan Binjai setinggi 60-75 cm, sebaiknya menggunakan drum dengan diameter sekitar 50-60 cm. Bagian dasar drum harus diberi lubang-lubang kecil, kemudian diberi ganjalan berupa batu bata atau batako sehingga pembuangan air penyiraman lancar. Urutan isi drum sebelum media tanam ialah:
  1. Masukkan pecahan batu bata ke dasar drum hingga mencapai seperempat bagian drum.
  2. Di atas lapisan batu bata, isikan selapis ijuk atau humus atau daun-daun kering.
  3. Masukkan pupuk kandang hingga mencapai 2 cm di bawah bibir drum. Siram hingga cukup basah.
Menyiapkan media tanam
Media tanam untuk penanaman dalam pot memiliki banyak variasi. Misalnya campuran tanah gembur, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 5 : 1 : 2. Ada juga campuran pupuk kandang, pasir, dan sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Campuran media tanam lainnya bisa berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2, atau campuran sekam dan pasir dengan perbandingan 1 : 1. Sebaiknya, media tanam ditambahkan dengan insektisida Furadan 3 G sebanyak 100 g/drum untuk mencegah serangan hama.
Penanaman bibit dalam pot
  1. Siram media tanam dalam polibag, lalu sobek, dan keluarkan bibit bersama tanahnya.
  2. Pangkas akar, daun, dan cabang bila tampak panjang.
  3. Gali media dalam drum membentuk lubang yang sesuai ukuran perakaran bibit.
  4. Tambahkan pupuk NPK, dengan perbandingan 15 : 15 : 15, sebanyak 100 gram, lalu aduk-aduk hingga merata.
  5. Masukkan bibit ke lubang dalam drum. Tekan tanah pelan-pelan pada bagian pangkal bibit.
  6. Siram sampai cukup basah.
  7. Untuk sementara waktu, beri tutup kantung plastik transparan dan letakkan di tempat yang teduh. Jika sudah tumbuh tunas-tunas baru, singkirkan tutup
Rawat agar berbuah

Agar rajin berbuah, rambutan harus dipelihara
Perawatan penting pada tabulampot rambutan adalah penyiraman, penggemburan, pemupukan, dan pemangkasan.
Di musim kemarau, penyiraman sangat perlu. Jika memakai air PAM, yang biasanya mengandung kaporit, sebaiknya endapkan dulu semalam, dan baru esoknya disiramkan. Namun, usahakan benar-benar jangan sampai air siraman menggenang lebih dari 12 jam. Genangan air bisa merangsang timbulnya penyakit busuk akar. Pemadatan media biasanya terjadi karena penyiraman yang berlebihan. Setelah itu, lakukan penggemburan dengan menggunakan sekop kecil. Hati-hati, jangan sampai merusak akarnya.
Meski media tanam menggunakan pupuk kandang, pupuk organik masih diperlukan. Sampai umur 2 tahun, setiap 4 bulan, tambahkan NPK (15:15:15) sebanyak 25 gram per drum. Sejak umur 3 tahun dan seterusnya, setiap drum diberi 100 gram NPK (15:15:15). Caranya, benamkan pupuk NPK sedalam 10 cm, lalu siram hingga cukup basah.
Selain untuk membentuk tajuk tanaman, pemangkasan juga bertujuan agar tanaman tampak pendek serta cabang dan pertumbuhannya seimbang. Pemangkasan pertama kali dilakukan saat tanaman berumur kurang dari setahun, atau tinggi batang sekitar 75-100 cm dari permukaan drum. Cara pemangkasan, untuk pemangkasan pertama ialah :
  1. Pilih 3 cabang primer. Bila panjang cabang primer mencapai 50 cm, pangkas ujungnya hingga tumbuh cabang-cabang sekunder.
  2. Pilih hanya tiga cabang sekunder per cabang primer. Selanjutnya, pangkas ujung cabang sekunder sampai tumbuh cabang tersier,
  3. Pilih hanya tiga cabang tersier. Ketiga cabang tersier ini akan mengalami pembungaan dan pembuahan.
  4. Pemangkasan juga dilakukan sesudah pemanenan buah.
Pengendalian hama dan penyakit
Hama
Kutu putih (Cacao mealybug)
Gejala : Kerusakan secara langsung dengan menghisap cairan tanaman, dan pada tingkat kerusakan berat dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman serta menimbulkan kerontokan buah muda. Secara tidak langsung, kutu menghasilkan embun madu sebagai tempat hidup cendawan jelaga.
Pengendalian : Cara mekanis : Pemangkasan dan sanitasi kebun
Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami seperti semut hitam, dan cendawan parasitEmpusa fresenii, predator Cryptolaemus. Pemanfaatan musuh alami seperti semut hitam, dan cendawan parasit  Empusa fresenii, predator Cryptolaemus montrouzieri(Coccinellidae) dan Leptomastidae abnormis (Encyrtidae).
Cara kimia : Gunakan Insektisida Lebaycid 550 dengan kosentrasi 0.2 % (disesuaikan keadaan tajuk tanaman
Penggerek buah (Acrocercops cramerella)
Gejala : Larva menggerek dan membuat lubang di bawah kulit buah dan meninggalkan kotoran. Kadang-kadang larva masuk lebih dalam lagi ke dalam daging buah, bahkan sampai ke dalam biji. Serangan larva tidak tampak dari luar dan baru dapat diketahui setelah buah dikupas.
Pengendalian 
Teknis : tidak menanam rambutan berdekatan dengan tanaman kakao
Cara mekanis : Melakukan pemangkasan dengan tujuan memutus siklus hidup hama.
Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami sejenis tabuhan sebagai parasitoid pupa, dan laba-laba sebagai predator telur dan pupa. Pemanfaatan agens antagonis Beauveria bassiana.
Hama Tirathaba (Tirathaba ruptilinea)
Gejala : Tirathaba ruptilinea dikenal sebagai perusak pembungaan dan pembuahan. Rusaknya daunmuda dan pangkal bunga akibat digerek oleh Tirathaba
Pengendalian : Cara mekanis : Kumpulkan daun dan bunga yang terserang untuk dikumpukan dan dimusnahkan dengan cara dibakar.
Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami antara lain lalat Tachinidae (Argyroplax basifulva), Venturia sp. (Ichneumonidae), Apanteles tirathabae (Braconidae) dan Telenomus tirathabae (Scelionidae).
Cara kimia : Semprot dengan Insektisida dengan Diazion 60 EC kosentrasi 0,5-0,2% /liter
Ulat daun (Hyperaeschrella insulicola)
Gejala : Larva memakan daun rambutan hingga tanaman menjadi gundul dan meranggas, terutama pada larva instar 3 dan 4
Pengendalian : Teknis : Sanitasi kebun. Pemupukan tanaman. Pemberian air pengairan (apabila memungkinkan)
Cara biologi : Gunakan musuh alami semut merah
Cara mekanis : Pengumpulan larva, pra-pupa dan pupa serta memusnahkannya (dikubur/dibakar). Pengasapan/pengoboran untuk mengusir ngengat yang hinggap di pohon dan membunuh larva.
Cara kimia : Penggunaan insektisida racun kontak atau racun perut, dengan menggunakan alat aplikasi skid power srayer atau pengabut panas (fogger). Penyemprotan insektisida diusahakan pada larva instar 1-3
Ulat daun (Tarsolepis sommeri)
Gejala: defoliasi (daun gundul).
Pengendalian : Cara mekanis : Pengasapan di bawah pohon untuk mengusir imago (serangga dewasa). Pembakaran sisa-sisa daun kering di sekitar pohon untuk membunuh pupa sebelum menjadi imago. Pemungutan secara langsung larva yang ada di daun kemudian dimusnahkan.
Cara kimia : Penyemprotan dengan insektisida efektif dan diizinkan Menteri Pertanian.
Penyakit
Embun Tepung (Oidiumnephel ii)
Gejala : Bagian daun terdapat tepung berwarna abu-abu
Pengendalian : Teknis : Menggunakan varietas yang tergolong tahan terhadap penyakit ini, yaitu Sibabat.
Cara mekanis : Pemangkasan dan sanitasi lalu dimusnahkan dengan cara dibakar.
Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif benomil seperti Benlate
Jamur Upas (Upasia Salmonicolor)
Gejala : Cabang/ranting banyak yang layu, timbul benang cendawan seperti sarang laba-laba
Pengendalian : Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.
Cara mekanis : Jika cendawan sudah mencapai stadium kortisium, sebaiknya cabang dipotong lebih kurang 30 cm di bawah bagian yang kulitnya sudah membusuk
Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti bubur kalifornia.atau Bordox.
Benang putih (Marasmius sp.)
Gejala : Cabang/ranting banyak terdapatbenang putih. Daun yang mati tidak langsung rontok melainkan tergantung denganbenang putih
Pengendalian : Teknis : Pemangkasan dan sanitasi
Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti benlate atau Cupravit sesui dosis yang dianjurkan
Busuk Buah (Glicophalotric humbulbilium)
Gejala : Buah yang masih kecil menjadi hitam dan rontok
Pengendalian : Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.
Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif karbendazin dengan kosentrasi 4 cc/liter air.
Perlakuan pascapanen : Mencegah adanya pelukaan pada waktu panen dan pengangkutan
Kanker batang (Dolabranepheliae Boot & Ting)
Gejala : Batang utama kulit pohon banyak terdapat kudis
Pengendalian : Teknis : Mengerok batang yang terserang kudis
Cara kimia : Gunakan karbol atau deterjen secukupnya
*dari berbagai sumber
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
top