Cara Budidaya Tabulampot Jambu Biji

Buah yang satu ini seolah naik tahta. Setelah dulu sempat dituding sebagai pemicu serangan usus buntu, kini jambu biji banyak diminati. Kandungan vitamin C-nya yang tinggi membuat buah yang satu ini banyak dikonsumsi hobiis dalam bentuk jus. Ragam jenisnya pun kian banyak, mulai dari jambu biji berdaging merah (misalnya sukun merah, getas merah) hingga jambu biji yang nyaris tanpa biji (misalnya jambu Kristal). Alasan lain buah ini diminati adalah karena mau berbuah sepanjang tahun dan cara budidaya-nya yang relatif mudah.

Teknik mudah budi daya
Agar produksinya optimal, jambu biji sebaiknya ditanam di tempat yang terbuka pada ketinggian 0-1.200 m dpl. Suhu optimal adalah 20º C pada malam hari dan 30º C pada siang hari. Intensitas curah hujan berkisar 1.000-2.000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Kelembaban udara yang diinginkan cenderung rendah karena kebanyakan jambu biji tumbuh di dataran rendah dan sedang. Tanaman jambu biji sebenarnya dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Namun, untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman ini akan lebih baik jika ditanam di tanah dengan pH antara 6-6,5.
a) Memilih bibit

Bibit jambu biji. Pilih yang kondisinya prima
Bibit jambu biji yang baik berasal dari hasil okulasi (penempelan) yang telah berumur minimal 4 bulan. Sebiaknya, panjang satu cabang tunas telah mencapai 30 cm dan memiliki 6 pasang daun. Yang paling penting, bibit terbebas dari hama dan penyakit utama.
b) Cara mudah menanam tabulampot
Maraknya tabulampot membuat jambu biji juga kerap ditanam di pekarangan dalam wadah pot. Untuk menghasilkan tabulampot jambu biji sarat buah, tahap penanaman sebaiknya dilakukan dengan benar, sebagai berikut.
  1. Pilih pot yang berukuran besar (diameter sekitar 1 m) yang terbuat dari plastik, semen atau drum bekas karena tinggi maksimal tanaman jambu biji bisa mencapai 10 m.
  2. Masukkan media tanam yang porous dan gembur ke dalam pot, bisa berupa campuran tanah merah dan pupuk kandang ayam (50%:50%).
  3. Pindahkan bibit dengan mencungkil atau membuka plastik yang melekat pada media penanaman secara hati-hati agar akar tidak rusak ke dalam pot yang sudah berisi media tanam. Agar akar tumbuh lebih banyak, potong akar tunggangnya sedikit. Untuk menjaga terjadinya penguapan yang berlebihan, potong lebar daun separuh.
  4. Padatkan media tanam di sekitar bibit, lalu siram tanaman hingga air mulai merembes dari dasar pot.
c)      Pelihara agar sarat buah
dok: http://www.kaskus.us
Tabulampot Jambu Biji, semarak buah (dok: http://www.kaskus.us)
Untuk mendapatkan tabulampot jambu biji sarat buah, tanaman perlu dipelihara dengan baik. Penyiraman perlu dilakukan secara rutin, terutama saat musim kemarau. Pemangkasan yang tepat juga akan memicu tanaman untuk rajin berbuah. Pemangkasan dilakukan pada cabang yang berada dekat dengan batang utama yang akan berbuah. Hal ini penting untuk mengoptimalkan pembuahan. Selain itu, kunci penting lain untuk memacu produksi buah kian banyak adalah dengan pemupukan. Cara pemupukan pada jambu biji sebagai berikut.
  1. Pada umur 0-1 tahun. Tanaman dipupuk dengan campuran 15 kg pupuk kandang per 6 bulan, 2 cc/Liter per bulan PPC, dan 100-150 g NPK per 4 bulan, dengan cara ditaburkan di sekeliling pohon atau dengan jalan menggali di sekeliling pohon sedalam 30 cm dan lebar 40-50 cm.
  2. Pada umur 1-2 tahun, setelah tanaman berbuah. Pemupukan dilakukan dengan 200-300 g NPK per 4 bulan dan 2 cc/liter PPC per 2 minggu dan 20 kg pupuk kandang per 6 bulan.
  3. Pada umur 2-5 tahun, tanaman jambu biji diberi 20 kg pupuk kandang per 6 bulan, 22 cc/liter per 2 minggu untuk PPC, serta NPK 350-500 g per 6 bulan.
  4. Pada umur  > 5 tahun. Jika pertumbuhan kurang sempurna, terutama terlihat pada pertumbuhan tunas hasil pemangkasan ranting, tanaman memerlukan pupuk kandang sebanyak 25 kg per 6 bulan per tanaman. Selain itu, tanaman juga perlu dipupuk dengan PPC sebanyak 2 cc/ Liter per 2 minggu dan NPK 500 g per 6 bulan.
Kendalikan hama dan penyakit agar tanaman tetap produktif
Berikut beberapa jenis hama dan penyakit yang kerap menyambangi jambu biji.
Hama
a. Ulat daun (trabala pallida) dan Ulat keket (Ploneta diducta)
Pengendalian: penyemprotan dengan menggunakan nogos. Buah baru boleh dipetik minimal 2 minggu setelah penyemprotan, untuk mengurangi efek samping insektisida tersebut.
b. Semut dan Kutu daun (Ceroputo)
Gejala : Jika serangan kutu daun berlangsung lama akan menimbulkan jamu hitam diatas embun tersebut atau biasa disevut embun jelaga pada permukaan daun.
Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida, seperti sevin dan furadan.
c. Kalong dan Bajing
Keberadaan serangga ini dipengaruhi faktor lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. Yang termasuk faktor biotik seperti persediaan makanan.
Pengendalian: dengan menggunakan musuh secara alami.
d. Ulat putih
Gejala: buah menjadi berwarna putih hitam,
Pengendalian:  penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak  2 kali seminggu. Penyemprotan dihentikan saat satu bulan sebelum panen.
e. Ulat penggerek batang (Indrabela sp)
Gejala: membuat lobang pada batang kayu sepanjang 30 cm;
Pengendalian: penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak  2 kali seminggu.
f. Ulat jengkal (Berta chrysolineate)
Gejala: pinggiran daun menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning.
Pengendalian: penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak  2 kali seminggu.
Penyakit
a. Penyakit karena ganggang (Cihephaleusos Vieccons)
Gejala: adanya bercak-bercak kecil dibagian atas daun disertai serat-serat halus berwarna jingga yang merupakan kumpulan sporanya.
Pengendalian: penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
b. Jamur Ceroospora psidil , Jamur karat poccinia psidil, Jamur allola psidil
Gejala: bercak pada daun berwarna hitam.
Pengendalian: penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
c. Penyakit karena cendawan (jamur) Rigidoporus Lignosus
Gejala: rizom berwarna putih yang menempel pada akar, apabila akar yang terserang dikupas akan nampak warna kecoklatan.
Pengendalian: penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
d. Penyakit karena lalat buah
Gejala : Daging buah busuk
Pengendalian :
- Menggunakan perangkap petrogenol
- Pembungkusan buah
e. Penyakit antraknosa
Gejala : Menyerang tunas muda, daun dan buah, buah menjadi keras dan bergabus. Tepi daun dan ujung daun hitam. Pada tingkat serangan berat dapat menyebabkan gugurnya daun. Pada umumnya menyerang buah yang mulai matang dengan gejala timbul bercak-berak.
Pengendalian :
- Sanitasi lingkungan tempat tumbuh & sanitasi tanaman
- Mengurangi kelembaban dengan cara pemangkasan
- Penyemprotan fungisida
f. Penyakit kanker / kudis
Gejala : Bercak kecil, kemudian berkembang dan membesar berwarna cokelat tua dan tampak seperti kanker
Pengendalian : Brongsong buah dan buang bagian tanaman yang sakit lalu bakar
g. Penyakit bercak daun
Gejala : Daun yang terserang tampak bercak-bercak bulat atau kurang teratur bentuknya, berwarna merah dan bagian tengah bercak terkadang putih.
Pengendalian : memotong da memusnahkan bagian yang sakit, dapat disemprot dengan fungisida sesuai dosis anjuran.
*dari berbagai sumber

Cara Budidaya Tabulampot Jambu Air

Jambu air merupakan salah satu jenis buah yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Buah musiman ini memiliki kandungan air yang tinggi dengan rasa yang manis. Tanaman buah ini mulai marak ditanam dalam pot karena bibit dari perbanyakan sambung, cangkok, dan okulasi mampu berbuah pada umur 2 tahun. Tinggi tanaman rata-rata mencapai 2—2,5 m.

Mengenal lingkungan tumbuh
Jambu air akan tumbuh optimal jika dipelihara di lingkungan yang sesuai dengan syarat tumbuhnya. Tanaman jambu air mempunyai daya adaptasi yang cukup besar di lingkungan tropis dari dataran rendah sampai tinggi yang mencapai 1.000 m dpl. Tanaman ini menginginkan cahaya matahari penuh untuk pertumbuhan dan pembuahan yang optimal. Suhu yang diinginkan berkisar 18-28 ºC dengan curah hujan yang rendah/kering, sekitar 500-3.000 mm/tahun. Kelembapan udara yang berkisar 50-80% juga menjadi faktor pertumbuhan yang baik. Intensitas cahaya matahari yang ideal dalam pertumbuhan jambu air adalah 40-80%, pada intensitas ini akan dihasilkan kualitas buah yang baik. Angin berperan dalam penyerbukan bunga. Angin yang terlalu besar akan menyebabkan bunga rontok.
Media tanam
Media tanam yang cocok bagi tanaman jambu air adalah tanah subur, gembur, dan banyak mengandung bahan organik. Derajat keasaman tanah (pH) media tanam jambu air berkisar antara 5,5–7,5.
Memilih bibit
Dalam memilih bibit, ada baiknya dipilih bibit yang telah disertifikasi. Bibit sebaiknya berasal dari hasil penempelan (okulasi) atau penyambungan yang telah berumur minimal 4 bulan. Panjang tunasnya minimal telah mencapai 30 cm dan memiliki 6 helai daun. Yang terpenting, bibit harus bebas dari hama dan penyakit.
Penanaman di pot

Untuk budidaya jambu air dalam pot langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut :
  1. Letakkan pot yang masih kosong di tempat yang diinginkan dan tidak ternaungi oleh atap atau tajuk tanaman lainnya. Beri ganjalan pot, kira-kira 10 cm dari tanah.
  2. Lubang pada dasar pot ditutupi dengan pecahan genteng, agar media tanam tidak mudah larut terbawa air siraman.
  3. Masukan media tanam ke dalam pot hingga batas 5 cm dari bibir pot. Media tanam yang digunakan bisa berupa sekam, pupuk kandang, dan ta­nah (2:2:1). Padatkan media dengan cara menggoyang-goyang dinding pot, lalu siram hingga cukup basah. Biarkan 2-3 hari agar media tanam dapat mengendap dan stabil.
  4. Buat lubang tanam pada media tepat di tengah-tengah pot dengan ukuran sebesar polibag bibit.
  5. Lepas bibit dengan cara menggunting polibag, lalu periksalah kondisi perakarannya. Jika sudah aman dan cukup rapi, masukkan bibit perlahan-lahan ke dalam lubang tanam, lalu urug dengan media hingga batas pangkal batang dan siram dengan air secukupnya. Waktu penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan dan sore hari.
  6. Beri ajir bambu untuk menyangga tanaman sehingga tanaman tidak mudah goyah jika tertiup angin. Lakukan penyiraman secara teratur.
Agar sehat dan pertumbuhan optimal

Jambu air dalam pot semarak buah
Untuk mendapatkan tanaman tetap sehat dengan pertumbuhan optimal, tentunya tanaman harus dirawat. Memelihara tanaman jambu air dalam pot tidak terlampau sulit. Kunci penting dalam cara budidaya tanaman ini adalah pemupukan, penyiraman, dan pemangkasan.
Pemupukan diberikan secara rutin agar tanaman tumbuh subur. Sebelum masuk masa berbunga dan berbuah (biasanya saat memasuki musim kemarau), lakukan pemupukan dengan nitrogen tinggi. Ganti nitrogen dengan pupuk berka­dar P tinggi jika ingin merangsang bunga yang ditambahkan dengan penyemprotan hormon sitokinin.
Penyiraman mutlak dibutuhkan karena media tanam dalam pot relatif cepat mengering. Lakukan penyiraman setip pagi dan sore hari, terutama saat kondisi terik. Penyiraman bisa menggunakan selang atau gembor dengan menyemprotkannya pada media tanam dan daunnya.
Pemangkasan terutama dilakukan untuk membentuk tajuk dan merangsang pembungaan. Pilih tiga atau empat batang utama sehingga tajuk tanaman menjadi rimbun. Pemangkasan dilakukan 1-2 cm dari batang utama sehingga luka bekas pangkasan tidak melukai batang utama.
Mengendalikan hama dan penyakit
Hama
Ulat pagoda (Pagodiella hekmeyeri) dan Ulat kepala bagong (Carea angulata)
Gejala : Ulat sangat rakus memakan daun, sehingga daun menjadi bopeng dan rusak.Tanaman tetap menghasilkan buah tetapi jumlahnya berkurang.
Pengendalian: dengan cara mengumpulkan telur, ulat, dan kepompong untuk
dimusnahkan. Atau menyemprotkan pestisida sistemik (Dimecron 50 SCW).
Kutu perisai hijau
Ciri: Menyebabkan terjadinya cendawan hitam seperti jelaga pada daun dan bagian-bagian tanaman yang hijau.
Pengendalian: cara alami dimakan oleh beberapa macam kepik dan ulat. Kutu ini di musim penghujan bisa musnah oleh serangan beberapa macam cendawan.
Keluang dan codot
Gejala : Buah-buah menjadi rusak karena digerogoti.
Pengendalian: buah-buahan yang hampir tua dibungkus kantong kertas/kain-kain
bekas.
Pasilan atau benalu
Gejala : Batang tanaman dijalari oleh benalu yang menempel dengan akarnya.
Pengendalian: dibuang dan dibersihkan.
Penggerek batang
Gejala : Batang menjadi berlubang
Pengendalian: dengan cara menyumbatkan kapas yang telah direndam insektisida Diazinon atau Bayrusil kedalam lubang batang yang digerek.
Penyemprotan insektisida harus dihentikan apabila tanaman sedang berbuah, karena pestisida sistemik itu cara kerjanya meresap ke dalam tanaman yang akan dimakan oleh hama, sehingga di khawatirkan buah akan mengandung racun jika saat penyemprotan tanaman tesebut sedang berbuah. Penyemprotan obat penangkal hama dan penyakit sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari dan di semprotkan ke seluruh bagian tanaman.
Penyakit
Gangguan pada akar
Pemupukan yang kurang hati-hati pada jambu air yang sedang berbuah dapat menyebabkan akar tanaman luka, maka bunga atau buah jambu air bisa rontok. Semua ini terjadi karena tanaman tidak mendapat suplai air dan zat makanan sebagaimana mestinya akibat rusaknya akar tersebut. Selain itu tanah yang berlebihan supali air juga dapat merontokkan bunga/buah, sebab sebab air yang menggenang membuat akar susah bernafas dan mengundang cendawan yang bisa membusukkan akar.
Pengendalian : Lakukan pemupukan dan penyiraman secara hati-hati.
Gangguan pada buah
Penyebab: ulat atau lalat buah (dacus pedestris) dan sejenis cendawan yang mengakibatkan buah rontok, busuk. Serangga ini langsung menyerang buah dengan ciri noda berwarna kecoklatan atau kehitaman pada permukaan buah.
Pengendalian: (1) cara membungkus buah dengan kertas koran, kantong semen, atau plastik sewaktu masih dipohon (2) dengan penyemprotan insektisida thioda (2-3 cc/liter air) dan fungisida dithane (3 cc/liter air).
*dari berbagai sumber

Cara Budidaya Tabulampot Rambutan

Tanaman buah tropis asli Indonesia ini mulai marak ditanam di halaman rumah. Tidak saja di tanah, tetapi juga di pot plastik atau drum. Jika ditanam di lahan, tingginya bisa mencapai 6,5-7,5 m. Tetapi, jika ditanam dalam pot, tanaman bisa dikerdilkan hingga tingginya hanya mencapai 2-3 m. Banyak sekali varietas unggulan dari buah yang berambut ini. Sebut saja rapiah dan Binjai. Kedua jenis ini banyak dipilih karena rasanya manis dan ngelotok.

Lingkungan tepat, performa prima
Lingkungan memang memegang peranan yang penting untuk menghasilkan performa rambutan prima. Sebaiknya, rambutan ditanam di daerah dengan ketinggian 30-500 m dpl. Pada ketinggian di bawah 30 m dpl, rambutan dapat tumbuh, tetapi tidak begitu baik hasilnya. Suhu lingkungan yang diinginkan 20-35ºC. Intensitas curah hujan berkisar antara 1.500-2.500 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Kelembapan udara yang dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan sedang. Kondisi udara dengan kelembapan yang rendah serta miskin uap air cocok untuk pertumbuhan tanaman rambutan. Sinar matahari harus dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak terbit hingga terbenam, intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan suhu lingkungan. Kekurangan sinar matahari dapat menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kempes).
Penanaman di pot

Untuk tabulampot, gunakan bibit rambutan sehat
Penanaman rambutan dalam pot seringkali mogok berbuah, bahkan tak berbuah sama sekali atau mati sebelum berbuah. Tanaman rambutan dalam pot sebetulnya bisa menghasilkan buah, asal kita tahu teknik cara budidaya yang tepat. Berikut adalah tahapan melakukan penanaman tanaman rambutan dalam pot.
Menyiapkan pot
Pot yang digunakan sebaiknya berupa drum berukuran agak besar, sebab ukuran bibitnya juga agak besar. Misalnya, bibit rambutan Binjai setinggi 60-75 cm, sebaiknya menggunakan drum dengan diameter sekitar 50-60 cm. Bagian dasar drum harus diberi lubang-lubang kecil, kemudian diberi ganjalan berupa batu bata atau batako sehingga pembuangan air penyiraman lancar. Urutan isi drum sebelum media tanam ialah:
  1. Masukkan pecahan batu bata ke dasar drum hingga mencapai seperempat bagian drum.
  2. Di atas lapisan batu bata, isikan selapis ijuk atau humus atau daun-daun kering.
  3. Masukkan pupuk kandang hingga mencapai 2 cm di bawah bibir drum. Siram hingga cukup basah.
Menyiapkan media tanam
Media tanam untuk penanaman dalam pot memiliki banyak variasi. Misalnya campuran tanah gembur, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 5 : 1 : 2. Ada juga campuran pupuk kandang, pasir, dan sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Campuran media tanam lainnya bisa berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2, atau campuran sekam dan pasir dengan perbandingan 1 : 1. Sebaiknya, media tanam ditambahkan dengan insektisida Furadan 3 G sebanyak 100 g/drum untuk mencegah serangan hama.
Penanaman bibit dalam pot
  1. Siram media tanam dalam polibag, lalu sobek, dan keluarkan bibit bersama tanahnya.
  2. Pangkas akar, daun, dan cabang bila tampak panjang.
  3. Gali media dalam drum membentuk lubang yang sesuai ukuran perakaran bibit.
  4. Tambahkan pupuk NPK, dengan perbandingan 15 : 15 : 15, sebanyak 100 gram, lalu aduk-aduk hingga merata.
  5. Masukkan bibit ke lubang dalam drum. Tekan tanah pelan-pelan pada bagian pangkal bibit.
  6. Siram sampai cukup basah.
  7. Untuk sementara waktu, beri tutup kantung plastik transparan dan letakkan di tempat yang teduh. Jika sudah tumbuh tunas-tunas baru, singkirkan tutup
Rawat agar berbuah

Agar rajin berbuah, rambutan harus dipelihara
Perawatan penting pada tabulampot rambutan adalah penyiraman, penggemburan, pemupukan, dan pemangkasan.
Di musim kemarau, penyiraman sangat perlu. Jika memakai air PAM, yang biasanya mengandung kaporit, sebaiknya endapkan dulu semalam, dan baru esoknya disiramkan. Namun, usahakan benar-benar jangan sampai air siraman menggenang lebih dari 12 jam. Genangan air bisa merangsang timbulnya penyakit busuk akar. Pemadatan media biasanya terjadi karena penyiraman yang berlebihan. Setelah itu, lakukan penggemburan dengan menggunakan sekop kecil. Hati-hati, jangan sampai merusak akarnya.
Meski media tanam menggunakan pupuk kandang, pupuk organik masih diperlukan. Sampai umur 2 tahun, setiap 4 bulan, tambahkan NPK (15:15:15) sebanyak 25 gram per drum. Sejak umur 3 tahun dan seterusnya, setiap drum diberi 100 gram NPK (15:15:15). Caranya, benamkan pupuk NPK sedalam 10 cm, lalu siram hingga cukup basah.
Selain untuk membentuk tajuk tanaman, pemangkasan juga bertujuan agar tanaman tampak pendek serta cabang dan pertumbuhannya seimbang. Pemangkasan pertama kali dilakukan saat tanaman berumur kurang dari setahun, atau tinggi batang sekitar 75-100 cm dari permukaan drum. Cara pemangkasan, untuk pemangkasan pertama ialah :
  1. Pilih 3 cabang primer. Bila panjang cabang primer mencapai 50 cm, pangkas ujungnya hingga tumbuh cabang-cabang sekunder.
  2. Pilih hanya tiga cabang sekunder per cabang primer. Selanjutnya, pangkas ujung cabang sekunder sampai tumbuh cabang tersier,
  3. Pilih hanya tiga cabang tersier. Ketiga cabang tersier ini akan mengalami pembungaan dan pembuahan.
  4. Pemangkasan juga dilakukan sesudah pemanenan buah.
Pengendalian hama dan penyakit
Hama
Kutu putih (Cacao mealybug)
Gejala : Kerusakan secara langsung dengan menghisap cairan tanaman, dan pada tingkat kerusakan berat dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman serta menimbulkan kerontokan buah muda. Secara tidak langsung, kutu menghasilkan embun madu sebagai tempat hidup cendawan jelaga.
Pengendalian : Cara mekanis : Pemangkasan dan sanitasi kebun
Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami seperti semut hitam, dan cendawan parasitEmpusa fresenii, predator Cryptolaemus. Pemanfaatan musuh alami seperti semut hitam, dan cendawan parasit  Empusa fresenii, predator Cryptolaemus montrouzieri(Coccinellidae) dan Leptomastidae abnormis (Encyrtidae).
Cara kimia : Gunakan Insektisida Lebaycid 550 dengan kosentrasi 0.2 % (disesuaikan keadaan tajuk tanaman
Penggerek buah (Acrocercops cramerella)
Gejala : Larva menggerek dan membuat lubang di bawah kulit buah dan meninggalkan kotoran. Kadang-kadang larva masuk lebih dalam lagi ke dalam daging buah, bahkan sampai ke dalam biji. Serangan larva tidak tampak dari luar dan baru dapat diketahui setelah buah dikupas.
Pengendalian 
Teknis : tidak menanam rambutan berdekatan dengan tanaman kakao
Cara mekanis : Melakukan pemangkasan dengan tujuan memutus siklus hidup hama.
Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami sejenis tabuhan sebagai parasitoid pupa, dan laba-laba sebagai predator telur dan pupa. Pemanfaatan agens antagonis Beauveria bassiana.
Hama Tirathaba (Tirathaba ruptilinea)
Gejala : Tirathaba ruptilinea dikenal sebagai perusak pembungaan dan pembuahan. Rusaknya daunmuda dan pangkal bunga akibat digerek oleh Tirathaba
Pengendalian : Cara mekanis : Kumpulkan daun dan bunga yang terserang untuk dikumpukan dan dimusnahkan dengan cara dibakar.
Cara biologi : Pemanfaatan musuh alami antara lain lalat Tachinidae (Argyroplax basifulva), Venturia sp. (Ichneumonidae), Apanteles tirathabae (Braconidae) dan Telenomus tirathabae (Scelionidae).
Cara kimia : Semprot dengan Insektisida dengan Diazion 60 EC kosentrasi 0,5-0,2% /liter
Ulat daun (Hyperaeschrella insulicola)
Gejala : Larva memakan daun rambutan hingga tanaman menjadi gundul dan meranggas, terutama pada larva instar 3 dan 4
Pengendalian : Teknis : Sanitasi kebun. Pemupukan tanaman. Pemberian air pengairan (apabila memungkinkan)
Cara biologi : Gunakan musuh alami semut merah
Cara mekanis : Pengumpulan larva, pra-pupa dan pupa serta memusnahkannya (dikubur/dibakar). Pengasapan/pengoboran untuk mengusir ngengat yang hinggap di pohon dan membunuh larva.
Cara kimia : Penggunaan insektisida racun kontak atau racun perut, dengan menggunakan alat aplikasi skid power srayer atau pengabut panas (fogger). Penyemprotan insektisida diusahakan pada larva instar 1-3
Ulat daun (Tarsolepis sommeri)
Gejala: defoliasi (daun gundul).
Pengendalian : Cara mekanis : Pengasapan di bawah pohon untuk mengusir imago (serangga dewasa). Pembakaran sisa-sisa daun kering di sekitar pohon untuk membunuh pupa sebelum menjadi imago. Pemungutan secara langsung larva yang ada di daun kemudian dimusnahkan.
Cara kimia : Penyemprotan dengan insektisida efektif dan diizinkan Menteri Pertanian.
Penyakit
Embun Tepung (Oidiumnephel ii)
Gejala : Bagian daun terdapat tepung berwarna abu-abu
Pengendalian : Teknis : Menggunakan varietas yang tergolong tahan terhadap penyakit ini, yaitu Sibabat.
Cara mekanis : Pemangkasan dan sanitasi lalu dimusnahkan dengan cara dibakar.
Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif benomil seperti Benlate
Jamur Upas (Upasia Salmonicolor)
Gejala : Cabang/ranting banyak yang layu, timbul benang cendawan seperti sarang laba-laba
Pengendalian : Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.
Cara mekanis : Jika cendawan sudah mencapai stadium kortisium, sebaiknya cabang dipotong lebih kurang 30 cm di bawah bagian yang kulitnya sudah membusuk
Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti bubur kalifornia.atau Bordox.
Benang putih (Marasmius sp.)
Gejala : Cabang/ranting banyak terdapatbenang putih. Daun yang mati tidak langsung rontok melainkan tergantung denganbenang putih
Pengendalian : Teknis : Pemangkasan dan sanitasi
Cara kimia : Gunakan Fungisida seperti benlate atau Cupravit sesui dosis yang dianjurkan
Busuk Buah (Glicophalotric humbulbilium)
Gejala : Buah yang masih kecil menjadi hitam dan rontok
Pengendalian : Teknis : Pemangkasan dan sanitasi kebun.
Cara kimia : Gunakan fungisida berbahan aktif karbendazin dengan kosentrasi 4 cc/liter air.
Perlakuan pascapanen : Mencegah adanya pelukaan pada waktu panen dan pengangkutan
Kanker batang (Dolabranepheliae Boot & Ting)
Gejala : Batang utama kulit pohon banyak terdapat kudis
Pengendalian : Teknis : Mengerok batang yang terserang kudis
Cara kimia : Gunakan karbol atau deterjen secukupnya
*dari berbagai sumber