Showing posts with label tanaman buah. Show all posts
Showing posts with label tanaman buah. Show all posts

Cara Budidaya Pisang

1. SEJARAH SINGKAT
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia
Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika
(Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan
Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang.










2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman pisang adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa spp.
Jenis pisang dibagi menjadi tiga:
1) Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var
Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis. Misalnya
pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas.
2) Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma
typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis. Misalnya pisang nangka, tanduk
dan kepok.
3) Pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya.
Misalnya pisang batu dan klutuk.
4) Pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).

3. MANFAAT TANAMAN
Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral
dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan
tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses
fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus
berbagai macam makanan trandisional Indonesia.
Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang
yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak
ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput
tidak/kurang tersedia.
Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri
dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat
sakit kencing dan penawar racun.

4. SENTRA PENANAMAN
Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat
produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon.
Tidak diketahui dengan pasti berapa luas perkebunan pisang di Indonesia. Walaupun
demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang
segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri
Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997
adalah ke Cina.

5. SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
1) Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun
demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air,
pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi
produksinya tidak dapat diharapkan.
2) Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan
mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
3) Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi
curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak
tergenang.
5.2. Media Tanam
1) Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah
berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah
berhumus dengan pemupukan.
2) Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman
pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50
- 200 cm, di daerah setengah basah 100 - 200 cm dan di daerah kering 50 - 150
cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang
yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah
yang mengandung garam 0,07%.
5.3. Ketinggian Tempat
Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat
tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon,
nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl

6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).
1) Persyaratan Bibit
Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi
15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit
akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit
anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik
digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di
dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun
masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada
bibit dengan daun yang lebar.
2) Penyiapan Bibit
Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri.
Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu
pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu
banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.
3) Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam
Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi
perlakuan sebagai berikut:
a) Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.
b) Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi
mengering. Buang daun-daun yang lebar.
c) Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0,5–1% selama
10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.
d) Jika tidak ada insektisida, rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam.
e) Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air
panas beberapa menit.
6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Pembukaan Lahan
Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan
letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan
sosial.
Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput
atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan
sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.
2) Pembentukan Sengkedan
Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan
tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan
rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman
legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi,
pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.
3) Pembuatan Saluran Pembuangan Air
Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah
datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi
dari landasan saluran itu sendiri.
6.3. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar sehingga pada tiga bulan pertama
memungkinkan dipakai pola tanam tumpang sari/tanaman lorong di antara
tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dapat berupa sayur-sayuran atau
tanaman pangan semusim.
Di kebanyakan perkebunan pisang di wilayah Asia yang curah hujannya tinggi,
pisang ditanam bersama-sama dengan tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa
dan arecanuts. Di India Barat, pisang untuk ekspor ditanam secara permanen
dengan kelapa.
2) Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau
40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah
sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.
3) Cara Penanaman
Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum
tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15–
20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan
Untuk mendapatkan hasil yang baik, satu rumpun harus terdiri atas 3-4 batang.
Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun
terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan). Setelah
5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru.
2) Penyiangan
Rumput/gulma di sekitar pohon induk harus disiangi agar pertumbuhan anak dan
juga induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan
penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran dan tunas bertambah banyak.
Perlu diperhatikan bahwa perakaran pisang hanya rata-rata 15 cm di bawah
permukaan tanah, sehingga penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.
3) Perempalan
Daun-daun yang mulai mengering dipangkas agar kebersihan tanaman dan
sanitasi lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini dilakukan setiap waktu.
4) Pemupukan
Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. Untuk satu hektar, pisang
memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl dan 200 kg batu kapur
sebagai sumber kalsium.
Pupuk N diberikan dua kali dalam satu tahun yang diletakkan di dalam larikan
yang mengitari rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali dengan tanah.
Pemupukan fosfat dan kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua kali dalam
setahun).
5) Pengairan dan Penyiraman
Pisang akan tumbuh subur dan berproduksi dengan baik selama pengairannya
terjaga. Tanaman diairi dengan cara disiram atau mengisi parit-parit/saluran air
yang berada di antara barisan tanaman pisang.
6) Pemberian Mulsa
Tanah di sekitar rumpun pisang diberi mulsa berupa daun kering ataupun basah.
Mulsa berguna untuk mengurangi penguapan air tanah dan menekan gulma,
tetapi pemulsaan yang terus menerus menyebabkan perakaran menjadi dangkal
sehingga pada waktu kemarau tanaman merana. Karena itu mulsa tidak boleh
dipasang terus menerus.
7) Pemeliharaan Buah
Jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir harus dipotong
agar pertumbuhan buah tidak terhambat. Setelah sisir pisang mengembang
sempurna, tandan pisang dibungkus dengan kantung plastik bening. Kantung
plastik polietilen dengan ketebalan 0,5 mm diberi lubang dengan diameter 1,25
cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa
sehingga menutupi 15-45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah
ujung buah dari sisir terbawah. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah akibat
beratnya tandan, batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan
sedalam 30 cm ke dalam tanah.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Ulat daun (Erienota thrax.)
Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun menggulung seperti selubun g
dan sobek hingga tulang daun. Pengendalian: dengan menggunakan insektisida
yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.
2) Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)
Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang. Gejala: lorong-lorong ke
atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian:
sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit
yang telah disucihamakan.
3) Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis).
Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman kelihatan merana, terbentuk
rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian: gunakan
bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan
dengan kadar lempung kecil.
4) Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)
Bagian yang diserang adalah bunga dan buah. Gejala: pertumbuhan buah
abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.
Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.
7.2. Penyakit
1) Penyakit darah
Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah
jaringan tanaman bagian dalam. Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan
seperti berdarah. Pengendalian: dengan membongkar dan membakar tanaman
yang sakit.
2) Panama
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun.
Gejala: daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam,
pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam.
Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
3) Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan
gejala bintik sawo matang yang makin meluas. Pengendalian: dengan
menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux
(BB).
4) Layu
Penyebab: bakteri Bacillus . Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman
layu dan mati. Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
5) Daun pucuk
Penyebab: virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Bagian
yang diserang adalah daun pucuk. Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara
berkelompok. Pengendalian: cara membongkar dan membakar tanaman yang
sakit.
7.3. Gulma
Tidak lama setelah tanam dan setelah kanopi dewasa terbentuk, gulma akan
menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan:
1) Penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon.
2) Menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan,
tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. Misalnya
Geophila repens.
3) Menutup tanah dengan plastik polietilen.
8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh
umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera.
Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah
yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan
pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan
sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya
buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.
8.2. Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang
diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan
bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik
supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.
Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh
pergesekan buah dengan tanah.
Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali.
Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari
permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan
tunas.
8.3. Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali
tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.
8.4. Perkiraan Produksi
Belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28
ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk
perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang
ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.
9. PASCAPANEN
Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk
mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan
kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan
dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan
dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke
dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di
ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.

Budidaya Pepaya California

Salah satu jenis pepaya yang mulai marak dikebunkan adalah pepaya california. Pepaya california memiliki keunggulan diantaranya buah tidak terlalu besar dengan ukuran antara 0,8 - 2 kg /buah, berkulit tebal, berbentuk lonjong, buah matang berwarna kuning, rasanya manis, daging buahnya tebal dan kenyal.

Pepaya california termasuk jenis unggul dan berumur genjah. Batangnya lebih pendek dari jenis pepaya lain yaitu sekitar 2 meter dan buah dapat dipanen setelah umur 7 sampai 9 bulan. Pohon dapat berbuah hingga umur 4 tahun. Dalam 1 bulan bisa dipanen sampai 4 kali. Sekali panen, pohon pepaya california bisa menghasilkan 10 sampai 20 buah. Dengan sekali panen tiap minggu bisa mencapai 2 ton per hektar.




SYARAT TUMBUH
5.1. Iklim
1) Angin diperlukan untukpenyerbukan bunga. Angin yang tidakterlalu kencang
sangat cocok bagi pertumbuhan tanaman.
2) Tanaman pepaya tumbuh subur pada daerah yang memilki curah hujan 1000-
2000 mm/tahun.
3) Suhu udara optimum 22-26 derajat C.
4) Kelembaban udara sekitar 40%.
5.2. Media Tanam
1) Tanah yang baik untuk tanaman pepaya adalah tanah ynag subur dan banyak
mengandung humus. Tanah itu harus banyak menahan air dan gembur.
2) Derajat keasaman tanah ( pH tanah) yang ideal adalah netral dengan pH 6-7.
3) Kandungan air dalam tanah merupakan syarat penting dalam kehidupan tanaman
ini. Air menggenang dapat mengundang penyakit jamur perusak akar hingga
tanaman layu (mati). Apabila kekeringan air, nama tamanan akan kurus, daun,
bunga dan buah rontok. Tinggi air yang ideal tidak lebih dalam daripada 50–150
cm dari permukaan tanah.
5.3. Ketinggian Tempat
Pepaya dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 700 m–1000 m dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Persyaratan Bibit/Benih
Sebagai bibit dipergunakan biji, meskipun pohon pepaya dapat di okulasi. Untuk
memperoleh biji bakal bibit yang baik dan murni dilakukan melalui pembijian
sendiri dengan jalan perkawinan buatan. Cara perkawinan buatan ada 2 yaitu:
a) Bunga-bunga dari tanaman betina ambil yang besar, dibungkus dengan kertas
plastik selama 2 hari, sebelumnya bunga-bunga betina membuka. Pada waktu
bunga-bunga itu membuka lakukan penyerbukan dengan bungan-bunga jantan
yang di kepyok-kepyokan di atas bunga betina. Perkawinan di lakukan hingga 3
kali.
b) Cari pepaya california yang berbunga dan berbuah terus menerus pilihlah bunga
elongata yang terbesar yang hampir mekar dan terletak pada ujung tangkai.
Kemudian bunga tersebut dibungkus dengan kantung agar tidak diserbuki
secara alami oleh bunga lain selama 10 hari.
Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak
benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk
diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang
menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh.
Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah
terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.
2) Penyiapan Benih
Kebutuhan benih perhektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dalam
larutan fungisida benomyl dan thiram ( Benlate T) 0,5 gram/liter kemudian disemai
dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2
ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang sudah matang
dan diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 29 gram curater/petrofar.
Biji-biji yang sudah dikeringkan, jika hendak ditanam harus diuji terlebih dahulu.
Caranya biji-biji, yang ditangguhkan dipergunakan sebagai bibit.
3) Teknik Penyemaian Benih
Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram
setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat
ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam.
Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian
dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan kekebun.
4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan ) dengan jarak 5-10
cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm.
Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam.
5) Pemindahan Bibit
Bibit-bibit yang sudah dewasa, siktar umur 2-3 bulan dapat dipindahkan pada
permulaan musim hujan.
6.2. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian
dicangkul/dibajak dan digemburkan.
2) Pembentukan Bedengan
Bentuk bedengan berukuran lebar 200-250 cm, tinggi 20-30 cm, panjang
secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm. Buat lobang ukuran 50 x 50 x 40 cm di
atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.
3) Pengapuran
Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5),
setelah diberi pupuk yang matang, perlu ditambah ± 1 kg dolomit dan biarkan 1-2
minggu.
4) Pemupukan
Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu
minggu, setelah itu tutup dengan tanah campuran 3 blek pupuk kandang yang
telah matang.
6.3. Teknik Penanaman
1) Pembuatan Lubang Tanam
Untuk biji yang disemai, sebelum bibit ditanamkan bibit, terlebih dahulu harus
dibuatkan lubang tanaman. Lubang-lubang berukuran 60 x 60 x 40 cm, yang digali
secara berbaris. Selama lubang-lubang dibiarkan kosong agar memperoleh cukup
sinar matahari. Setelah itu lubang-lubang diisi dengan tanah yang telah dicampuri
dengan pupuk kandang 2-3 blek. Lubang-lubang yang ditutupi gundukan tanah
yang cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru
lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan
penanaman.
Apabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang-lubang pertanaman harus
digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5
bulan sebelum musim hujan.
2) Cara Penanaman
Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat
dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping
beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai
berbunga.
2) Penyiangan
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan
penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kalli kebun tersebut harus
disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.
3) Pembubunan
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan
pendangiran tanah. Kapan dan berapa kalli kebun tersebut harus didangiri tak
dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.
4) Pemupukan
Pohon pepaya memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik,
memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban
tanah. Cara pemberian pupuk:
a) Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50
gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar.
b) Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram
ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl.
c) Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram
ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl.
d) Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA,
60 gram Urea, 75 gramTSP, dan 75 gram KCl.
5) Pengairan dan Penyiraman
Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang.
Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama. Apalagi di
daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan paritparit.
Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.

Cara Budidaya Tabulampot Sawo

Sawo (Achras zapota) merupakan tanaman buah berupa pohon yang dapat tumbuh besar dan berbuah lebat. Daunnya yang rimbun mampu menjadi penaung dari sengatan matahari. Tanaman yang sebelumnya berada di daerah tropis Guatemala (Amerika Tengah), Mexico, dan Hindia Barat ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan urutan klasifikasi di kalangan ilmiah, sawo yang disebut neesbery atau sapodilla tergolong ke dalam famili Sapotaceae.

Tanaman sawo tak hanya dapat diambil buahnya tetapi juga getahnya yang terdapat pada kulit batang, daun, dan empulur pohon sawo. Di negara asalnya, tanaman sawo hanya diambil getahnya untuk bahan baku pembuatan permen karet, sedangkan di Indonesia sawo dibudidayakan untuk dinikmati buahnya. Manfaat lain dari tanaman sawo adalah kayunya yang bagu serta di setiap bagian tanamannya memiliki kandungan tertentu untuk pengobatan tradisional. Nama lokal untuk tanaman sawo, ialah : Sawo Manila (Melayu), Saus (Padang), Sawo Manila (Sunda), Sawo Manila (Jawa Tengah), Sabu manela (Madura), Sabo jawa (Bali). Cara budidaya tanaman sawo ini tidak begitu sulit
  1. Syarat tumbuh
Iklim
Tanaman ini optimal dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai kering dengan pembagian bulan basah dan bulan kering yang dikehendaki yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan 2 bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah dengan 5 bulan kering dan atau 5 bulan basah dengan 7 bulan kering. Tanaman sawo tetap dapat berkembang baik pada suhu antara 22-32 ºC, dengan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun. Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari namun toleran terhadap keadaan teduh (naungan).
Tanaman sawo tahan terhadap kekeringan, salinitas yang agak tinggi, dan tiupan angin keras.
Media Tanam
Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman sawo adalah tanah lempung berpasir (latosol) yang subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik. Tetapi hampir semua jenis tanah yang diginakan untuk pertanian cocok untuk ditanami sawo, seperti jenis tanah andosol (daerah vulkan), aluvial loams (daerah aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung). Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo adalah antara 6–7. Kedalaman air tanah yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo, yaitu antara 50 cm sampai 200 cm.
Ketinggian Tempat
Daerah-daerah yang sesuai untuk tanaman sawo dapat berkembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dataran rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl. Namun, sebenarnya tanaman sawo dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai dengan ketinggian 1.200 m dpl.
2. Menanam Tabulampot Sawo

Sawo dalam pot (foto: http://tamankarnasia.blogspot.com)
Menanam tanaman sawo dalam pot dapat menggunakan bibit asal biji, jika tujuannya untuk membentuk tajuk yang indah sebagai penghias pekarangan. Akan tetapi, bibit asal biji ini memiliki masa pertumbuhan yang sangat lambat, apalagi untuk mencapai masa berbuahnya. Oleh karena itu, dapat dipilih bibit cangkok sebagai alternatif, dengan syarat batang pokoknya harus lurus dan percabangannya menarik agar memudahkan dalam hal pemangkasan serta kelak tidak hanya mempesona disaat berbuah saja. Pilih bibit yang sehat dengan daun hijau segar dan mengembang sempurna serta bebas hama penyakit. Bibit cangkokan dipilih yang cabang atau rantingnya bagus dan sehat.
Menyiapkan pot
Pilihan penggunaan pot untuk tanaman sawo dapat berupa pot dari semen, kayu atau drum bekas. Namun, yang paling praktis ialah pot dari drum bekas, karena selain tidak beresiko pecah ketika dipindahkan, pot dari drum bekas ini juga tahan lama. Ukuran pot minimal untuk tanaman sawo sebaiknya yang bediameter 30 cm atau disesuaikan dengan ukuran tanaman, dan yang terpenting dari apapun jenis dan bahan pot yang digunakan ialah adanya lubang untuk pembuangan air di bagian dasar pot yang cukup baik. Seperti misalnya pada drum bekas perlu dibuat lubang sebanyak 5 buah dengan diameter masing-masing 1 cm.
Menyiapkan media tanam
Penggunaan media tanam dalam pot harus benar-benar diperhatikan. Media tanam yang dapat digunakan ialah seperti campuran pupuk kandang/kompos yang telah matang dengan tanah (1:1). Kedua media tersebut dicampur merata sebelum dimasukkan ke dalam pot.
Penanaman bibit dalam pot
  1. Dasar pot dialasi ijuk atau pecahan genteng dengan ketebalan 5-10 cm, agar dapat menahan hilangnya tanah melalui lubang pot akibat penyiraman.
  2. Di atas alas tersebut diberi campuran media tanam setebal 3-5 cm.
  3. Bibit didekatkan pada pot. Pembungkus bibit dilepaskan dengan hati-hati.
  4. Masukan bibit ke dalam pot, lalu urug dengan sisa media tanam hingga rata dengan bibir pot.
  5. Lakukan penyiraman hingga media turun sekitar 5 cm di bawah bibir pot.
  6. Simpan tanaman dalam pot di tempat teduh untuk sementara, dan beri ganjalan di bawah pot dengan batu bata agar pot tidak bersinggungan langsung dengan tanah yang menyebabkan aliran air siraman terhambat keluar.
  7. Setelah tanaman sawo tampak segar dan muncul tunas, tanaman dapat dipindahkan ke tempat terbuka yang terkena sinar matahari penuh.
3. Pemeliharaan
Penyiraman
Penyiraman pada tanaman dalam pot menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Jika tidak turun hujan perlu dilakukan penyiraman 1-2 hari sekali, yang terpenting, media tanam dalam pot dijaga agar tidak mengalami kekeringan ataupun kelebihan air. Cara penyiraman perlu diperhatikan. Penyiraman dengan cara menyiramkan air ke seluruh bagian tanaman dapat membuat tanaman terlihat bersih, akan tetapi jika tanaman sedang berbunga hal ini perlu dilakukan secara cermat agar siraman air tidak membuat bunga rontok. Oleh karena itu, ada baiknya penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor atau nozzle.
Penyiangan
Setelah 1-2 bulan setelah tanam, perlu dilakukan penyiangan untuk membersihkan rumput dan gulma yang menggangu. Jika tanaman sudah tumbuh besar gangguan tersebut tidak berarti, tetapi jika tanaman masih kecil akan sangat berarti karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman sawo. Gangguan tumbuhan parasit seperti benalu juga harus diperhatikan. Jika kelihatan pada ranting pohon sawo terdapat benalu atau parasit agar segera dibersihkan dengan cara memotong ranting tempat benalu menempel. Pemotongan sebaiknya dilakukan sebelum benalu berbunga. Perlu pula dilakukan pemberantasan benalu pada pohon lain di dekat tanaman sawo untuk mencegah penularan pada tanaman sawo lainnya. Untuk tanaman sawo dalam pot, perawatan ini tidak begitu digunakan, akan tetapi jika ada tumbuhan pengganggu dalam pot segera dicabut saja lalu dibuang.
Pembubunan/ pendangiran
Pada saat penyiangan, dapat juga dilakukan pembubunan tanah di sekitar tanaman. Pembubunan dilakukan untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman sawo dan untuk memperkokoh batang tumbuhnya. Pendangiran pada pot hanya dilakukan jika media dalam pot sudah tampak memadat.
Pemupukan lanjutan
Sebagai pedoman pemupukan dapat diberikan 250-500 gr urea/pohon/tahun sebelum tanaman sawo berbuah. Pemupukan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun, karena urea adalah sumber N yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun.
Bila tanaman sudah waktunya berbuah, kurang lebih berumur 4 tahun, dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk majemuk NPK (10-20-15) yang kandungan fosfor (P) dan kaliumnya (K) tinggi sebanyak 500 gr/ pohon tiap tahun. Bila tidak ada NPK bisa diganti dengan pupuk urea, DS, dan KCl sebanyak 108 gr, 277 gr, dan 144 gr. Sedangkan tanaman sawo dalam pot hanya membutuhkan pupuk NPK tersebut sebanyak 50 gr/ tanaman setiap 2 bulan sekali, dan pupuk daun setiap 1-2 minggu sekali dengan dosis yang tertera pada tanaman. Unsur P bagi tanaman berfungsi untuk mempercepat pembungaan, sedangkan unsur K berfungsi untuk menjaga bunga dan buah supaya tidak mudah gugur.
Jumlah pupuk tersebut secara bertahap ditingkatkan sampai 2 kg/pohon tiap tahun untuk tanaman sawo yang telah berumur 15 tahun. Selain urea dan NPK yang diberikan, perlu juga diberikan pupuk kandang sebanyak 10 kg/pohon untuk memperbaiki struktur tanah.
Pemberian pupuk lanjutan tersebut dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan setengah dari yang disebutkan di atas.
Cara pemberian pupuk dengan menaburkan pupuk ke dalam parit yang digali di bawah pohon mengelilingi lingkaran tajuk dengan lebar dan kedalaman ± 10 cm. Dapat juga ditanam pada empat lubang di bawah tajuk pohon dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 20 cm untuk tiap lubang. Sedangkan untuk pemupukan dalam pot caranya adalah dengan mengangkat tanah yang bersinggungan dengan pinggir pot sedalam 10 cm, kemudian ditimbun lagi setelah pupuk dimasukan.
Pemangkasan
Tanaman sawo yang dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 20 m. Agar tanaman sawo tidak terlalu tinggi, maka dilakukan pemangkasan. Pemangkasan juga bertujuan membentuk percabangan yang baik dan kuat. Bibit tanaman dalam pot yang berasal dari cangkokan hanya perlu dipangkas untuk memperbaiki bentuk, bukan untuk membentuk tajuk. Akan tetapi jika asal bibit berasal dari sambung pucuk, maka pembentukan tajuk perlu dilakukan sejak semula. Berikut adalah teknis pemangkasan :
a) Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan bentuk ditujukan untuk mengatur ketinggian dan bentuk tajuk, agar memudahkan dalam pemetikan buah serta pengontrolan hama dan penyakit.
Pembentukan tajuk tanaman sawo dalam pot dapat dilakukan tidak hanya pada musim hujan. Pemangkasan pertama ketika tanaman telah tumbuh cukup kuat (2 bulan setelah tanam). Pemangkasan dilakukan dengan memotong ujung batang hingga tinggal 15-40 cm dari permukaan tanah dalam pot. Tempat pemangkasan harus sedikit di atas ruas batang. Luka bekas pangkasan ditutup dengan cat meni atau parafin untuk mencegah penyakit. Beberapa hari setelah pemangkasan akan tumbuh tunas-tunas baru pada ketiak daun. Tiga dari tunas yang tumbuh sehat dan tidak saling berdekatan dipilih sebagai cabang primer dan dibiarkan tumbuh sedangkan tunas lainnya dibuang. Pemangkasan ke dua ketika cabang primer tumbuh sepanjang 20-25 cm ujungnya dipangkas lagi hingga panjangnya tinggal 15-20 cm. Pemangkasan ini dilakukan tepat di atas mata tunas. Akibat pemangkasan ini akan muncul tunas-tunas baru. Dua atau tiga tunas yang sehat dibiarkan tumbuh menjadi cabang sekunder dan tunas yang lain dipotong. Setelah terbentuk cabang sekunder, selanjutnya hanya dilakukan pemangkasn pemeliharaan.
Tanaman sawo dalam pot dapat dibentuk tajuknya tidak hanya dengan pemangkasan, tetapi juga dengan menggugurkan buah-buah yang tumbuh pertama kali, karena biasanya jika buah pertama dibiarkan berkembang pertumbuhan tanaman selanjutnya akan menjadi jelek. Jika menginginkan bentuk tajuk yang sederhana, pemangkasan dapat diakhiri sampai tahap pemangkasan pertama saja, dan selanjutnya hanya untuk pemangkasan pemeliharaan.
b) Pemangkasan Pemeliharaan
Pemangkasan pemeliharaan ditujukan untuk memotong ranting yang terlalu panjang atau rusak dan lemah, mencegah serangan penyakit, memotong cabang-cabang air, serta mengurangi kerimbunan sehingga sinar matahari dapat masuk. Pemangkasan pemeliharaan ini dapat dilakukan setiap saat jika diperlukan.
Penggantian media tanam dan pot
Seperti halnya tanaman yang tumbuh di lahan, tanaman dalam pot juga mengalami perkembangan yang suatu saat menginginkan tempat yang lebih luas. Tidak hanya batang dan tajuknya saja yang berkembang, tetapi perakaran di bawah tanah dalam pot juga berkembang, sehingga ruang dalam pot menjadi berkurang, daya tamping pot untuk menampung media tanam berkurang dan persediaan makan bagi tanaman pun menjadi terbatas. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan penggantian pot (repotting) dengan cara :
  1. Siram media dalam pot dengan air hingga media menjadi lunak dan tanaman mudah dilepas dari pot.
  2. Segera pindahkan tanaman yang sudah lepas ke dalam pot yang baru/ lebih besar.
  3. Urug bagian pot yang kosong dengan media yang baru, lalu siram dengan air bersih.
Apabila tanaman tidak perlu diganti pot, maka yang diperlukan hanyalah memotong/mengikis sebagian tanah pada bagian sisi dan bawah dengan menggunakan pisau yang bersih dan tajam. Setelah itu, masukan kembali ke dalam pot, lalu timbun dengan campuran media tanam yang sama tapi baru, kemudian siram dengan air.
4. Pengendalian hama dan penyakit
Hama
a)       Lalat buah (Dacus sp.) Gejala: terdapat bintik-bintik kecil berwarna hitam atau cokelat pada permukaan kulit, tetapi daging buah sudah membusuk yangdiakibatkan oleh larva lalat yang memakan daging buah. Pengendalian: (1) membersihkan (sanitasi) sisa-sisa tanaman di sekitar tanaman dan kebun; (2) membungkus buah dengan kertas semen atau koran; (3) memasang perangkap lalat buah yang mengandung bahan metyl eugenol, misalnya M-Atraktan, dalam botol plastik bekas; (4) menyemprotkan perangkap lalat buah, seperti Promar yang dicampur dengan insektisida kontak atau sistemik; (5) menginfus akar tanaman dengan laruta insektisida sistemik, seperti Tamaron, dengan konsentrasi 3-5% pada fase sebelum berbunga; (6) menyemprot tanaman dengan insektisida kontak, seperti Agrothion 50 EC dengan dosis 3-4 cc/liter air.
b)      Kutu hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan Kutu cokelat(Saissetia nigra)
Gejala : Ranting-ranting muda dan daun-daun sawo mengkerut, layu, kering dan terhambat pertumbuhannya. Hal tersebut dilakukan dengan cara menghisap cairan yang terdapat di dalam ranting dan daun. Selain menghisap cairan, kutu-kutu ini juga menghasilkan embun madu yang dapat mengundang kehadiran cendawan jelaga.
Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida, seperti Diasinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc/liter air atau Basudin 50 EC dengan dosis 2 cc/liter air yang disemprotkan langsung ke kutu-kutu tersebut.
Penyakit
a)      Jamur upas (jamur Corticium salmonocolor)
Gejala: (1) Stadium rumah laba-laba, ditandai dengan munculnya meselium tipis berwarna mengkilat seperti sutera atau perak pada cabang atau ranting. Pada stadium ini jamur belum masuk ke dalam kulit tanaman sawo; (2) Stadium bongkol, jamur membentuk gumpalan-gumpalan hifa didepan lentisel sebelum memasuki kulit sawo; (3) Stadium corticium, jamur membentuk kerak berwarna merah muda yang berangsur-angsur berubah menjadi lebih muda lalu menjadi putih. Kulit tanaman sawo yang terdapat di bawah kerak tersebut akan membusuk; (4) Stadium necator, jamur membentuk banyak piknidium yang berwarna merah pada sisi cabang atau ranting yang lebih kering.
Pengendalian: (1) Pada stadium laba-laba, penyakit ini dapat diatasi dengan cara menggosok tempat yang terserang jamur sampai hilang. Bekas luka gosokan diolesi dengan cat meni, ter, atau carbolineum; (2) Penyemprotan dengan fungisida yang mengandung tembaga berkadar tinggi seperti Cupravit OB 21 dengan dosis 4 gram/liter air setiap tiga minggu sekali untuk menghindari munculnya serangan lagi; (3) Pemotongan pada bagian tanaman yang terserang apabila jamur sudah mencapai stadium bongkol, corticium, atau necator. Pemotongan dilakukan pada bagian yang sehat jauh dari batas bagian yang sakit. Bagian yang dipotong kemudian diolesi dengan fungisida serta potongan yang terserang penyakit segera dibakar untuk mencegah spora berterbangan. Pemotongan cabang atau ranting juga dilakukan untuk mengurangi kelembaban yang dapat mendorong pertumbuhan spora.
b)      Jamur jelaga (jamur Capnodium sp.)
Gejala: berupa warna hitam seperti beludru yang menutupi permukaan daun sawo. Jamur ini sebenarnya hanya memakan madu yang dikeluarkan oleh serangga (Indicerus sp.), akan tetapi jika dibiarkan lama kelamaan dapat menutupi seluruh daun dan ranting tanaman sawo, sehingga proses fotosintesa tanaman sawo akan terganggu dan pertumbuhan terhambat. Serangan yang terjadi pada saat tanaman berbunga dapat mengakibatkan buah yang terbentuk hanya sedikit. Jika yang terserang adalah buah, dapat menyebabkan kerontokan atau berkurangnya kualitas buah.
Pengendalian: (1) melenyapkan serangga yang menghasilkan embun madu terlebih dahulu dengan insektisida; (2) dilakukan penyemprotan dengan fungisida seperti Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air atau Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air.
c)      Busuk buah (jamur Phytopthora palmivora Butl.)
Gejala: mula-mula kulit buah berbercak-bercak kecil berwarna hitam atau cokelat, kemudian melebar dan menyatu secara tidak beraturan, daging buah membusuk dan berair, serta kadang-kadang buah berjatuhan (gugur).
Pengendalian: (1) dengan cara pemotongan buah yang sakit berat, pengumpulan dan pemusnahan buah yang terserang; (2) penyemprotan fungisida, seperti Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8 gr – 2,4 gram/liter air.
d)     Hawar benang putih (jamur (cendawan) Marasmius scandens Mass.)
Gejala: daun-daun mengering dan berguguran. Pada ranting yang mengering terdapat benang-benang jamur berwarna putih.
Pengendalian: (1) dengan cara mengurangi kelembaban kebun, memotong bagian tanaman yang sakit berat; (2) mengoleskan atau menyemprotkan fungisida, seperti Benlate dengan dosis 2 gr/1 air.
*dari berbagai sumber

Cara Budidaya Tabulampot Jambu Biji

Buah yang satu ini seolah naik tahta. Setelah dulu sempat dituding sebagai pemicu serangan usus buntu, kini jambu biji banyak diminati. Kandungan vitamin C-nya yang tinggi membuat buah yang satu ini banyak dikonsumsi hobiis dalam bentuk jus. Ragam jenisnya pun kian banyak, mulai dari jambu biji berdaging merah (misalnya sukun merah, getas merah) hingga jambu biji yang nyaris tanpa biji (misalnya jambu Kristal). Alasan lain buah ini diminati adalah karena mau berbuah sepanjang tahun dan cara budidaya-nya yang relatif mudah.

Teknik mudah budi daya
Agar produksinya optimal, jambu biji sebaiknya ditanam di tempat yang terbuka pada ketinggian 0-1.200 m dpl. Suhu optimal adalah 20º C pada malam hari dan 30º C pada siang hari. Intensitas curah hujan berkisar 1.000-2.000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun. Kelembaban udara yang diinginkan cenderung rendah karena kebanyakan jambu biji tumbuh di dataran rendah dan sedang. Tanaman jambu biji sebenarnya dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Namun, untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman ini akan lebih baik jika ditanam di tanah dengan pH antara 6-6,5.
a) Memilih bibit

Bibit jambu biji. Pilih yang kondisinya prima
Bibit jambu biji yang baik berasal dari hasil okulasi (penempelan) yang telah berumur minimal 4 bulan. Sebiaknya, panjang satu cabang tunas telah mencapai 30 cm dan memiliki 6 pasang daun. Yang paling penting, bibit terbebas dari hama dan penyakit utama.
b) Cara mudah menanam tabulampot
Maraknya tabulampot membuat jambu biji juga kerap ditanam di pekarangan dalam wadah pot. Untuk menghasilkan tabulampot jambu biji sarat buah, tahap penanaman sebaiknya dilakukan dengan benar, sebagai berikut.
  1. Pilih pot yang berukuran besar (diameter sekitar 1 m) yang terbuat dari plastik, semen atau drum bekas karena tinggi maksimal tanaman jambu biji bisa mencapai 10 m.
  2. Masukkan media tanam yang porous dan gembur ke dalam pot, bisa berupa campuran tanah merah dan pupuk kandang ayam (50%:50%).
  3. Pindahkan bibit dengan mencungkil atau membuka plastik yang melekat pada media penanaman secara hati-hati agar akar tidak rusak ke dalam pot yang sudah berisi media tanam. Agar akar tumbuh lebih banyak, potong akar tunggangnya sedikit. Untuk menjaga terjadinya penguapan yang berlebihan, potong lebar daun separuh.
  4. Padatkan media tanam di sekitar bibit, lalu siram tanaman hingga air mulai merembes dari dasar pot.
c)      Pelihara agar sarat buah
dok: http://www.kaskus.us
Tabulampot Jambu Biji, semarak buah (dok: http://www.kaskus.us)
Untuk mendapatkan tabulampot jambu biji sarat buah, tanaman perlu dipelihara dengan baik. Penyiraman perlu dilakukan secara rutin, terutama saat musim kemarau. Pemangkasan yang tepat juga akan memicu tanaman untuk rajin berbuah. Pemangkasan dilakukan pada cabang yang berada dekat dengan batang utama yang akan berbuah. Hal ini penting untuk mengoptimalkan pembuahan. Selain itu, kunci penting lain untuk memacu produksi buah kian banyak adalah dengan pemupukan. Cara pemupukan pada jambu biji sebagai berikut.
  1. Pada umur 0-1 tahun. Tanaman dipupuk dengan campuran 15 kg pupuk kandang per 6 bulan, 2 cc/Liter per bulan PPC, dan 100-150 g NPK per 4 bulan, dengan cara ditaburkan di sekeliling pohon atau dengan jalan menggali di sekeliling pohon sedalam 30 cm dan lebar 40-50 cm.
  2. Pada umur 1-2 tahun, setelah tanaman berbuah. Pemupukan dilakukan dengan 200-300 g NPK per 4 bulan dan 2 cc/liter PPC per 2 minggu dan 20 kg pupuk kandang per 6 bulan.
  3. Pada umur 2-5 tahun, tanaman jambu biji diberi 20 kg pupuk kandang per 6 bulan, 22 cc/liter per 2 minggu untuk PPC, serta NPK 350-500 g per 6 bulan.
  4. Pada umur  > 5 tahun. Jika pertumbuhan kurang sempurna, terutama terlihat pada pertumbuhan tunas hasil pemangkasan ranting, tanaman memerlukan pupuk kandang sebanyak 25 kg per 6 bulan per tanaman. Selain itu, tanaman juga perlu dipupuk dengan PPC sebanyak 2 cc/ Liter per 2 minggu dan NPK 500 g per 6 bulan.
Kendalikan hama dan penyakit agar tanaman tetap produktif
Berikut beberapa jenis hama dan penyakit yang kerap menyambangi jambu biji.
Hama
a. Ulat daun (trabala pallida) dan Ulat keket (Ploneta diducta)
Pengendalian: penyemprotan dengan menggunakan nogos. Buah baru boleh dipetik minimal 2 minggu setelah penyemprotan, untuk mengurangi efek samping insektisida tersebut.
b. Semut dan Kutu daun (Ceroputo)
Gejala : Jika serangan kutu daun berlangsung lama akan menimbulkan jamu hitam diatas embun tersebut atau biasa disevut embun jelaga pada permukaan daun.
Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida, seperti sevin dan furadan.
c. Kalong dan Bajing
Keberadaan serangga ini dipengaruhi faktor lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. Yang termasuk faktor biotik seperti persediaan makanan.
Pengendalian: dengan menggunakan musuh secara alami.
d. Ulat putih
Gejala: buah menjadi berwarna putih hitam,
Pengendalian:  penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak  2 kali seminggu. Penyemprotan dihentikan saat satu bulan sebelum panen.
e. Ulat penggerek batang (Indrabela sp)
Gejala: membuat lobang pada batang kayu sepanjang 30 cm;
Pengendalian: penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak  2 kali seminggu.
f. Ulat jengkal (Berta chrysolineate)
Gejala: pinggiran daun menjadi kering, keriting berwarna cokelat kuning.
Pengendalian: penyemprotan dengan insektisida yang sesuai sebanyak  2 kali seminggu.
Penyakit
a. Penyakit karena ganggang (Cihephaleusos Vieccons)
Gejala: adanya bercak-bercak kecil dibagian atas daun disertai serat-serat halus berwarna jingga yang merupakan kumpulan sporanya.
Pengendalian: penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
b. Jamur Ceroospora psidil , Jamur karat poccinia psidil, Jamur allola psidil
Gejala: bercak pada daun berwarna hitam.
Pengendalian: penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
c. Penyakit karena cendawan (jamur) Rigidoporus Lignosus
Gejala: rizom berwarna putih yang menempel pada akar, apabila akar yang terserang dikupas akan nampak warna kecoklatan.
Pengendalian: penyemprotan fungisida seperti Dlsene 200 MX.
d. Penyakit karena lalat buah
Gejala : Daging buah busuk
Pengendalian :
- Menggunakan perangkap petrogenol
- Pembungkusan buah
e. Penyakit antraknosa
Gejala : Menyerang tunas muda, daun dan buah, buah menjadi keras dan bergabus. Tepi daun dan ujung daun hitam. Pada tingkat serangan berat dapat menyebabkan gugurnya daun. Pada umumnya menyerang buah yang mulai matang dengan gejala timbul bercak-berak.
Pengendalian :
- Sanitasi lingkungan tempat tumbuh & sanitasi tanaman
- Mengurangi kelembaban dengan cara pemangkasan
- Penyemprotan fungisida
f. Penyakit kanker / kudis
Gejala : Bercak kecil, kemudian berkembang dan membesar berwarna cokelat tua dan tampak seperti kanker
Pengendalian : Brongsong buah dan buang bagian tanaman yang sakit lalu bakar
g. Penyakit bercak daun
Gejala : Daun yang terserang tampak bercak-bercak bulat atau kurang teratur bentuknya, berwarna merah dan bagian tengah bercak terkadang putih.
Pengendalian : memotong da memusnahkan bagian yang sakit, dapat disemprot dengan fungisida sesuai dosis anjuran.
*dari berbagai sumber